Catatan kuliah yang efektif tidak diukur dari kerapian atau panjangnya. Catatan bagus adalah catatan yang bisa kamu pakai lagi saat belajar mandiri tanpa harus menebak-nebak maksud dosen. Kalau selama ini kamu mencatat semua kalimat dosen lalu bingung sendiri saat membacanya, ada beberapa cara merapikannya.
Menjelang ujian, catatan yang berantakan memaksa kamu membaca ulang materi dari awal. Waktu belajar jadi habis hanya untuk menyusun ulang isi. Metode di bawah ini bisa kamu terapkan mulai kuliah berikutnya.
Kenali dulu kenapa catatanmu sulit dipakai lagi
Coba buka catatan dari dua minggu lalu. Kalau kamu butuh lebih dari satu menit untuk paham isinya, masalahnya biasanya ada di tiga hal: tidak ada penanda topik, kalimat ditulis persis seperti ucapan dosen, dan tidak ada keterangan mana yang inti dan mana yang contoh.
Dosen berbicara dengan ritme yang tidak selalu cocok untuk ditulis utuh. Hasilnya, kamu sibuk mengejar kata demi kata dan kehilangan alur penjelasan. Catatan yang baik menangkap struktur pembicaraan, bukan memindahkan seluruh ucapan ke halaman.
Pilih format catatan yang cocok dengan gaya belajarmu
Tidak semua orang cocok dengan format yang sama. Ada yang terbantu oleh poin-poin pendek, ada yang butuh peta konsep. Coba beberapa format berikut, lalu pakai yang paling sering kamu buka kembali.
- Nota garis (outline): topik utama di kiri, subpoin menjorok ke dalam. Cocok untuk mata kuliah yang materinya bertingkat seperti hukum atau akuntansi.
- Kartu Cornell: halaman dibagi tiga bagian, kolom sempit di kiri untuk kata kunci, bagian tengah untuk isi, bagian bawah untuk ringkasan. Berguna saat kamu ingin menguji diri sendiri dengan menutup kolom isi.
- Peta konsep: topik di tengah, cabang ke konsep turunan. Pas untuk mata kuliah dengan banyak hubungan antar konsep, misalnya teori sosial atau biologi.
- Catatan tabel: beberapa kolom berisi perbandingan, misalnya teori, tokoh, dan ciri utama. Membantu saat materi berisi banyak istilah yang mirip.
Kalau kamu juga aktif di organisasi, pilih format yang bisa ditulis cepat saat rapat siang lalu lanjut ke kelas sore. Pembagian waktu seperti ini dibahas lebih rinci di cara membagi waktu kuliah dan organisasi tanpa keteteran.
Cara membuat catatan kuliah yang efektif saat dosen sedang menjelaskan
Kuncinya ada di kecepatan memilah. Kamu tidak menulis semua yang diucapkan, tapi memilih sinyal yang biasanya menandai materi penting.
Tangkap penanda dari ucapan dosen
Dosen jarang bilang “ini akan keluar di ujian”. Tapi mereka sering mengulang satu kalimat, melambat saat menjelaskan definisi, atau bilang “ingat ya” sebelum lanjut. Begitu mendengar pengulangan, tandai di catatan dengan tanda bintang atau garis pinggir. Kamu tidak perlu langsung memutuskan apakah itu penting, cukup tandai dan tinjau lagi nanti.
Tulis definisi persis, tulis penjelasan dengan bahasamu sendiri
Definisi dan rumus sebaiknya dikutip apa adanya karena satu kata yang bergeser bisa mengubah arti. Untuk penjelasan dan contoh, tulis ulang dengan kalimatmu. Proses mengubah kalimat dosen menjadi kalimat sendiri sebenarnya sudah semacam latihan mengingat, dan hasilnya lebih mudah dicerna saat dibaca lagi.
Sisakan ruang kosong di sisi kanan atau bawah halaman
Ruang kosong berguna untuk menambahkan pertanyaan, koreksi setelah membaca buku, atau catatan dari sesi tanya jawab. Kalau semua halaman penuh, kamu akan menulis tambahan di tempat acak dan menyulitkan diri sendiri.
Jangan mengejar slide
Kalau dosen membagikan slide, kamu tidak perlu menyalin semuanya. Slide sudah tersedia untuk dibaca ulang. Fokus catatan justru pada hal yang tidak ada di slide: contoh yang diberikan dosen, kaitan dengan pertemuan sebelumnya, dan jawaban atas pertanyaan mahasiswa lain.
Rapikan catatan dalam 10 menit setelah kelas
Bagian ini paling sering dilewatkan, padahal paling menentukan. Sepulang kelas, luangkan waktu singkat untuk membereskan catatan saat ingatanmu masih segar.
- Baca ulang catatan sambil menandai bagian yang belum jelas.
- Tambahkan judul topik dan tanggal di bagian atas halaman.
- Ubah singkatan yang membingungkan menjadi kata utuh.
- Tulis tiga sampai lima poin ringkasan di akhir catatan.
- Catat pertanyaan yang ingin kamu tanyakan ke dosen atau asisten.
Sepuluh menit ini menghemat waktu belajar yang jauh lebih lama nanti. Kalau kamu rutin melakukannya, materi ujian sudah setengah tersusun sebelum masa ujian tiba.
Gabungkan catatan dengan bahan lain
Catatan kuliah bukan satu-satunya sumber. Buku teks, jurnal, dan catatan teman bisa melengkapi bagian yang terlewat. Saat menggabungkan, beri tanda berbeda untuk setiap sumber supaya kamu tahu mana yang berasal dari penjelasan dosen dan mana yang dari bacaan tambahan.
Kebiasaan menulis juga terlatih lewat kegiatan lain di luar kelas. Kalau kamu suka menulis, latihan menyusun kisah pendek bisa melatih kemampuan merangkum alur, seperti pendekatan dalam menulis cerpen biografi singkat. Kemampuan yang sama berguna saat kamu harus memadatkan materi satu bab menjadi satu halaman.
Untuk mata kuliah yang menuntut analisis visual atau pemahaman gaya, misalnya sejarah seni atau desain, kamu bisa melatih cara mengamati detail lewat kegiatan mengumpulkan karya. Panduan memulai koleksi seni dieselpunk untuk pemula memberi gambaran bagaimana memperhatikan ciri khas sebuah karya, dan cara berpikir itu bisa kamu bawa ke catatan kuliah.
Simpan catatan di tempat yang mudah dicari
Catatan yang bagus tapi tidak bisa ditemukan saat dibutuhkan sama saja tidak ada. Tentukan satu sistem penyimpanan sejak awal semester.
Kalau mencatat digital, gunakan penamaan berkas yang konsisten, misalnya kode mata kuliah diikuti nomor pertemuan. Kalau mencatat di buku, pakai satu buku per mata kuliah atau beri label di sisi buku. Foto catatan tulisan tangan juga bisa disimpan dalam folder per mata kuliah, tapi pastikan hasil fotonya terbaca.
Saat memilih jurusan dan kampus, kamu juga akan menghadapi banyak informasi yang perlu dicatat dan dibandingkan. Cara menyaring informasi itu mirip dengan proses di jurusan kuliah vs minat: cara memilih yang tepat.
Kesalahan mencatat yang perlu dihindari
Beberapa kebiasaan berikut membuat catatan terlihat lengkap tapi tidak membantu saat belajar.
- Menyalin seluruh slide tanpa menambahkan penjelasan apa pun.
- Menulis dengan rapat tanpa judul topik, sehingga sulit menemukan bagian tertentu.
- Merekam kuliah lalu tidak pernah mendengarkannya kembali.
- Meminjam catatan teman tanpa memeriksa apakah isinya sesuai dengan yang kamu dengar.
- Menyimpan catatan di banyak tempat berbeda tanpa sistem penamaan.
Merekam kuliah sebenarnya boleh saja, asalkan kamu punya rencana kapan akan mendengarkannya. Tanpa rencana, rekaman hanya menambah ruang penyimpanan dan rasa bersalah.
Ringkasan
Catatan kuliah yang efektif dibangun dari tiga kebiasaan: memilah saat dosen menjelaskan, merapikan sepuluh menit setelah kelas, dan menyimpan dengan sistem yang konsisten. Format boleh berbeda antar mahasiswa, yang penting catatan itu benar-benar kamu buka lagi saat belajar. Mulai dari satu mata kuliah dulu, lalu perluas ke mata kuliah lain setelah metodenya terasa nyaman.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah lebih baik mencatat dengan tangan atau laptop?
Keduanya bisa efektif. Mencatat dengan tangan membuat kamu cenderung merangkum karena tulisan tangan lebih lambat, sedangkan laptop memudahkan pencarian dan penyuntingan. Pilih yang membuatmu paling sering membaca ulang catatan, dan sesuaikan dengan aturan dosen di kelas.
Bagaimana kalau dosen menjelaskan terlalu cepat?
Tulis kata kunci dan struktur utamanya dulu, lalu lengkapi setelah kelas memakai slide atau buku. Kalau ada bagian yang benar-benar terlewat, tanyakan ke teman sekelas atau ajukan pertanyaan singkat di akhir kuliah. Jangan berhenti mencatat hanya karena tertinggal satu kalimat.
Berapa lama waktu ideal untuk merapikan catatan?
Cukup sekitar sepuluh sampai lima belas menit per pertemuan. Waktu itu sudah cukup untuk menambahkan judul, memperjelas singkatan, dan menulis ringkasan. Kalau ditunda berhari-hari, ingatanmu tentang konteks penjelasan dosen akan berkurang dan proses merapikan jadi lebih lama.